Rabu, 09 Januari 2013

Vocabulary (1)

  1. 4/9          : Four-Ninths
  2. 4/9          : Four over ninth
  3. 28%        : twenty eight percent
  4. 5'.8"        : five feet, eight inchees
  5. 4ft x 6 ft  : four feet by six feet
  6. 5m x 2m  : five meters by two meters
  7. 1 2/3        : one and two thirds
  8. 1/2           : a half
  9. 1/3           : a third
  10. 1/4           : a quarter   

D R E A M

  Dream based on KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia) is a desire always in our mind. Dream is something that we want to get with a big plan and action to get it. There is no people has not dream. Our country also has a big dream.
  There are 3 factors influence the dreams:
  • From ourselves
  • The condition to get the dream
  • What kind of the dream that we want 
   Dream is a purpose and motivator in our life. Dream can make us more diligent. We need support from our parents, family, and friends to make our dream come true. If I remember my dream in the past, I think is very funny. 
   When I was child, I want to be a doctor because I think that doctor is a very kind and always help other people in the hospital. And also I want to became a singer, because I think I can sing a song and my voice is melodius.
    We ever heard expression about "Jangan bercita-cita terlalu tinggi, kalau jatuh nanti sakit" If we believe that expression, that is a very dangerous. We are as a young generation must have a big dream for commute the world. We know that way to make our dream come true is not easy but don't give up. We have many ways for make our dream come true. 

Aku Ingin Negeri Sejahtera seperti Negeri Dongeng

  Kemiskinan adalah salah satu masalah sosial yang terjadi Indonesia dan negara-negara lainnya. Apakah faktor utama yang membuat kemiskinan di Indonesia tidak bisa dikurangi? Semakin hari, semakin meningkatnya kemiskinan yang ada di Indonesia.
  Dimana upaya pemerintah dan para pejabat tinggi negara mengenai masalah sosial ini?
Miris sekali melihat masih banyak saudara-saudara kita yang tidak mampu seperti pada gambar tersebut.

Bukan seribu janji yang mereka inginkan
Bukan juga seratus kata-kata munafik yang ingin didengar
 Buktikan semuanya
Teriakan mereka dalam kebisuan ini

Kebisuan yang di buat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab
Dimana pahlawan yang datang seperti di negeri dongeng
Membawakan keadilan
Membawakan kesejahteraan
Membawakan perlindungan

Membawa senyum untuk merubah semuanya
Dimana?
Dimana?
Apakah semua itu hanya ada di negeri dongeng?
Negeri khayalan
Bukan negeri tercinta kita ini    

Jenada dan Apel Merah

  Jenada tiba-tiba terdiam seperti patung, ketika seseorang memanggilnya dengan lantang. Dibalikannya badan Jenada dan dia pun terkaget seperti tertembak oleh prajurit Israel yang sedang perang. "Jenada jangan tinggalkan aku! Jenada aku mohon padamu" kata sesosok pria gagah yang muncul dari kegelapan yang tersembunyi.
Suasana pun menjadi hening, langkah yang cepat kini berubah menjadi jejak kaki yang semakin perlahan-lahan melambat. "Kenapa kamu mencoba menghindar dariku?" kata pria tersebut.  
   Jenada adalah seorang gadis desa yang mempunyai hati selembut kapas putih, berparaskan kecantikan abadi yang tidak ada bandingannya tetapi hanya dua kekurangnya yaitu Jenada mempunyai tubuh yang gemuk dan latarbelakang keluarga Jenada hanya berprofesi sebagai penjual buah apel merah. Setiap hari Jenada selalu membantu ayahnya untuk menjualkan buah apel merah ke penduduk desa. Sepulang dari membantu sang ayah Jenada membantu sang ibu ke kebun apel.
Suatu hari Jenada mendapat kabar dari tetangga nya kalau sang ayah tergeletak di pinggir sungai saat ingin melewati sungai tersebut. Pada saat itu Jenada sedang mencoba menjual apel merah itu ke istana megah dekat desa yang dia tempat sampai sekarang. Tanpa berpikir panjang Jenada bergegas untuk melihat sang ayah. Muka putih yang berparaskan kecantikan itu berubah menjadi merah seperti apel merah yang dia bawa. Jenada menangis melihat keadaan sang ayah yang terkapar lemah tak berdaya di atas tikar bambu. "Jenada, anakku tersayang janganlah menangis. Aku tidak menyukai peri kecilku mengeluarkan air mata seperti ini" kata sang ayah. Sambil terus memegang tangan sang ayah, Jenada menahan tangisannya agar tidak tampak di depan sang ayah. 
Saat itu ada seorang pangeran yang begitu gagah dan mempunyai rupa yang sangat tampan berkelana di dekat pedesaan tempat Jenada tinggal. Sang pangeran mencari-cari buah apel merah yang terkenal akan kelezatan dan kemanisan dari buah tersebut. Sang pangeran menyuruh para prajurit untuk menanyakan kepada warga setempat dimanakah letak rumah si penjual apel merah tersebut, setelah mendapatkan informasi tersebut bergegas lah sang pangeran menunggangi kuda putih tersebut menuju rumah Jenada. Tanpa Jenada ketahui ada seorang pangeran yang ingin menuju ke rumahnya, saat itu Jenada sedang termenung  memikirkan penyakit yang diderita oleh sang ayah.
    Jenada menangis tersedu-sedu, tanpa Jenada sadari sang pangeran melihatnya menangis. Sang pangeran pergi menghampiri Jenada "kenapa engkau terlihat sedih sekali, ada apa gerangan? Gadis cantik sepertimu tidak boleh bersedih." kata sang pangeran sambil mengahapus air mata di kedua pipinya. Terlihat sekali Jenada memendam rasa malunya. Jenada mengetahui bahwa Ia adalah seorang pangeran dari istana megah yang ada di dekat desanya, dengan rasa hormat Jenada mempersilahkan sang pangeran untuk masuk ke dalam rumah nya yang begitu sempit dan kecil itu. "Siapa nama adinda? Bolehkah saya tahu?" sang pangeran bertanya. "Nama saya Jenada pangeran" jawabnya. Dalam pikiran sang pangeran begitu cantik dan sopannya Jenada. Pandangan pertama membuat sang pangeran mulai merasakan bunga-bunga di dalam hatinya. Begitu pun sebaliknya dengan isi hati Jenada. "Ada apa gerangan pangerang datang kerumah saya? Adakah maksud tertentu pangeran?" tanya Jenada. "Jenada, aku ingin membeli apel merah yang engkau jualkan itu." jawab sang pangeran. Dengan cepat Jenada membawa beberapa kantung apel merah yang diinginkan sang pangeran. Jenada lagi-lagi termenung dan tiba terdiam. "Jenada ada apa denganmu?" tanya sang pangeran. "Tidak pangeran, terimakasih telah mau membeli apel merahku ini" jawab Jenada dengan senyuman manisnya yang selalu diingat oleh sang pangeran.
   Keesokan harinya sang pangeran diam-diam datang untuk melihat Jenada dari kejauhan. Sang pangeran sangat terpukau oleh kebaikan hati Jenada dan wajah cantik nya. Sang pangeran tidak pernah memandang fisik atau pun harta yang dimiliki Jenada. Jenada pun masih teringat akan paras tampan yang dimiliki sang pangeran. Keduanya sedang dalam pengaruh aroma cinta. Jenada sangat mencintai sang pangeran, dia pun berharap sekali akan dipertemukan lagi oleh sang pangeran. Tetapi Jenada merasa sangat kurang percaya diri akan tubuh yang dimilikinya. Tubuhnya yang sangat gemuk membuatnya sangat merasa kekuarangan.
   Suatu hari Janeda mendapatkan surat undangan dari istana kerajaan. Disitu tertulis Janeda aku harap engkau datang ke acara dansa ku malam ini, akan ada kereta kuda yang aku utus untuk menjemputmu dan jangan lupa untuk mengenakan gaun yang aku bawakan ini untukmu (Pangeran). Jenada pun merasa sangat senang lalu dia menceritakan kepada kedua orang tuanya. Sang ayah yang masih terbaring pun merasa sangat bahagia melihat putrinya bahagia. Malam hari pun sangat cepat menyambut Jenada. Begitu cantik saat Jenada menggunakan gaun yang diberikan oleh sang pangeran. Sesampainya kereta kuda yang membawa Jenada ke istana, begitu terpukaunya sang pangeran melihat Jenada berjalan memasuki istana yang didalamnya penuh dengan perempuan cantik dan kaya. Jenada terlihat sangat malu, lalu sang pangeran mengajaknya berdansa dan sang pangeran mengenalkan Jenada kepada para tamu perempuan yang lainnya. Tetapi ada perkataan yang membuat Jenada harus meninggalkan istana tersebut dengan wajah sedih. "Hei Jenada, seharusnya engkau memperhatikan bentuk tubuhmu itu saat berjalan bersama sang pangeran. Tidak kah kau sadar bentuk tubuhmu itu seperti seorang pembantu istana." kata salah seorang tamu perempuan. Tanpa berpikir panjang Jenada pun pergi meninggalkan sang pangeran dan menangis sepanjang jalan. Jenada berjalan sangat cepat dan terus memasuki hutan yang terkenal akan gelapnya. Jenada terkaget-kaget kenapa dia bisa masuk kedalam hutan ini. Tiba-tiba saja sang pangeran muncul dan menyuruh Jenada berhenti. "Jenada aku tidak mempedulikan tentang fisik dan hartamu, yang aku inginkan hanyalah kamu dan cintamu yang putih seperti hatimu".
^ Selesai^ 

Selasa, 08 Januari 2013

Dunia Hitam dan Dunia Putih

Menangis...
Itu tandanya sedih
  Tertawa...
Itu tandanya bahagia

Dimanakah kau saat aku menangis?
Dimanakah kau saat aku tertawa?

Menghilang bagai ditelan bumi
Menghilang bagai ditelan samudra
Menghilang bagai ditelan cahaya matahari

Kepedulian mu
Ke acuhan mu
Semua berdampak pada realita kehidupan kita
Saat ini juga

Mengapa engkau tidak pernah mengerti
Bukankah engkau yang menjanjikan semuanya

Bersumpah untuk merubah garis hitam ini
Merubahnya menjadi putih

Hitam yang berarti gelap
Dan putih yang berarti terang     

Hitam dan putih seperti membelah dunia
Dunia kita 
Dunia aku
Dunia kamu      

 




Sabtu, 05 Januari 2013

Aku, Dunia Gambarku Itu Dunia Aku dan Masa Lalu dan Sekarang



 Entah sejak kapan aku mulai menyukai goresan pensil yang berserakan diatas kertas sehingga menghasilkan sesuatu yang menurutku lucu dan menyenangkan.
Saat itu ku mulai menggoreskan pensil yang sungguh berwarna indah pada selembar kertas yang putih dan polos. Itu sangat menyenangkan, menciptakan sesuatu diatas kertas. Kedengarannya biasa aja, tapi ini membuatku mempunyai dunia baru.
Ku beranikan diri untuk menumpahkan cairan berwarna-warni yang menambah keindahan warna yang aku inginkan. Ku ambil sebatang kuas besar dan entahlah apa yang sebenarnya akan ku buat.
Setiap hari ku berani menggoreskan semua yang ada dan mencampurkan semua yang ada. Awalnya sungguh tidak ada maksud dari sesuatu yang aku goreskan. Tapi justru ini membuat ku merasakan proses yang sebenarnya aku ingin lakukan untuk kepuasan ku dikertas itu. 

Lelaki yang Membunuhku dengan Pesonanya

Dikala sang bulan datang perlahan-lahan meresapi cahaya indah mentari
Disitu aku termenung
Disitu aku terdiam, menatap sekeliling yang begitu tenang dan terasa damai

Ada maksud dari tingkah laku yang ku lakukan ini
Ku menoleh ke arah kanan
Pandanganku tertuju pada rumah itu

Iya, benar disitu
Aku mencari-cari seseorang yang akan berkelana ke alam bebas

Penasaran yang terus menghantui ku
Ada apa gerangan?
Sosok pria yang membuat mataku, raga serta jiwaku terpaku padanya

Terpana ku menantinya
Terpana hingga tak mempunyai arti
Terpana hingga ku membeku
Terpana hingga ku mati dalam rasa penasaran ini

Rabu, 09 Januari 2013

Vocabulary (1)

  1. 4/9          : Four-Ninths
  2. 4/9          : Four over ninth
  3. 28%        : twenty eight percent
  4. 5'.8"        : five feet, eight inchees
  5. 4ft x 6 ft  : four feet by six feet
  6. 5m x 2m  : five meters by two meters
  7. 1 2/3        : one and two thirds
  8. 1/2           : a half
  9. 1/3           : a third
  10. 1/4           : a quarter   

D R E A M

  Dream based on KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia) is a desire always in our mind. Dream is something that we want to get with a big plan and action to get it. There is no people has not dream. Our country also has a big dream.
  There are 3 factors influence the dreams:
  • From ourselves
  • The condition to get the dream
  • What kind of the dream that we want 
   Dream is a purpose and motivator in our life. Dream can make us more diligent. We need support from our parents, family, and friends to make our dream come true. If I remember my dream in the past, I think is very funny. 
   When I was child, I want to be a doctor because I think that doctor is a very kind and always help other people in the hospital. And also I want to became a singer, because I think I can sing a song and my voice is melodius.
    We ever heard expression about "Jangan bercita-cita terlalu tinggi, kalau jatuh nanti sakit" If we believe that expression, that is a very dangerous. We are as a young generation must have a big dream for commute the world. We know that way to make our dream come true is not easy but don't give up. We have many ways for make our dream come true. 

Aku Ingin Negeri Sejahtera seperti Negeri Dongeng

  Kemiskinan adalah salah satu masalah sosial yang terjadi Indonesia dan negara-negara lainnya. Apakah faktor utama yang membuat kemiskinan di Indonesia tidak bisa dikurangi? Semakin hari, semakin meningkatnya kemiskinan yang ada di Indonesia.
  Dimana upaya pemerintah dan para pejabat tinggi negara mengenai masalah sosial ini?
Miris sekali melihat masih banyak saudara-saudara kita yang tidak mampu seperti pada gambar tersebut.

Bukan seribu janji yang mereka inginkan
Bukan juga seratus kata-kata munafik yang ingin didengar
 Buktikan semuanya
Teriakan mereka dalam kebisuan ini

Kebisuan yang di buat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab
Dimana pahlawan yang datang seperti di negeri dongeng
Membawakan keadilan
Membawakan kesejahteraan
Membawakan perlindungan

Membawa senyum untuk merubah semuanya
Dimana?
Dimana?
Apakah semua itu hanya ada di negeri dongeng?
Negeri khayalan
Bukan negeri tercinta kita ini    

Jenada dan Apel Merah

  Jenada tiba-tiba terdiam seperti patung, ketika seseorang memanggilnya dengan lantang. Dibalikannya badan Jenada dan dia pun terkaget seperti tertembak oleh prajurit Israel yang sedang perang. "Jenada jangan tinggalkan aku! Jenada aku mohon padamu" kata sesosok pria gagah yang muncul dari kegelapan yang tersembunyi.
Suasana pun menjadi hening, langkah yang cepat kini berubah menjadi jejak kaki yang semakin perlahan-lahan melambat. "Kenapa kamu mencoba menghindar dariku?" kata pria tersebut.  
   Jenada adalah seorang gadis desa yang mempunyai hati selembut kapas putih, berparaskan kecantikan abadi yang tidak ada bandingannya tetapi hanya dua kekurangnya yaitu Jenada mempunyai tubuh yang gemuk dan latarbelakang keluarga Jenada hanya berprofesi sebagai penjual buah apel merah. Setiap hari Jenada selalu membantu ayahnya untuk menjualkan buah apel merah ke penduduk desa. Sepulang dari membantu sang ayah Jenada membantu sang ibu ke kebun apel.
Suatu hari Jenada mendapat kabar dari tetangga nya kalau sang ayah tergeletak di pinggir sungai saat ingin melewati sungai tersebut. Pada saat itu Jenada sedang mencoba menjual apel merah itu ke istana megah dekat desa yang dia tempat sampai sekarang. Tanpa berpikir panjang Jenada bergegas untuk melihat sang ayah. Muka putih yang berparaskan kecantikan itu berubah menjadi merah seperti apel merah yang dia bawa. Jenada menangis melihat keadaan sang ayah yang terkapar lemah tak berdaya di atas tikar bambu. "Jenada, anakku tersayang janganlah menangis. Aku tidak menyukai peri kecilku mengeluarkan air mata seperti ini" kata sang ayah. Sambil terus memegang tangan sang ayah, Jenada menahan tangisannya agar tidak tampak di depan sang ayah. 
Saat itu ada seorang pangeran yang begitu gagah dan mempunyai rupa yang sangat tampan berkelana di dekat pedesaan tempat Jenada tinggal. Sang pangeran mencari-cari buah apel merah yang terkenal akan kelezatan dan kemanisan dari buah tersebut. Sang pangeran menyuruh para prajurit untuk menanyakan kepada warga setempat dimanakah letak rumah si penjual apel merah tersebut, setelah mendapatkan informasi tersebut bergegas lah sang pangeran menunggangi kuda putih tersebut menuju rumah Jenada. Tanpa Jenada ketahui ada seorang pangeran yang ingin menuju ke rumahnya, saat itu Jenada sedang termenung  memikirkan penyakit yang diderita oleh sang ayah.
    Jenada menangis tersedu-sedu, tanpa Jenada sadari sang pangeran melihatnya menangis. Sang pangeran pergi menghampiri Jenada "kenapa engkau terlihat sedih sekali, ada apa gerangan? Gadis cantik sepertimu tidak boleh bersedih." kata sang pangeran sambil mengahapus air mata di kedua pipinya. Terlihat sekali Jenada memendam rasa malunya. Jenada mengetahui bahwa Ia adalah seorang pangeran dari istana megah yang ada di dekat desanya, dengan rasa hormat Jenada mempersilahkan sang pangeran untuk masuk ke dalam rumah nya yang begitu sempit dan kecil itu. "Siapa nama adinda? Bolehkah saya tahu?" sang pangeran bertanya. "Nama saya Jenada pangeran" jawabnya. Dalam pikiran sang pangeran begitu cantik dan sopannya Jenada. Pandangan pertama membuat sang pangeran mulai merasakan bunga-bunga di dalam hatinya. Begitu pun sebaliknya dengan isi hati Jenada. "Ada apa gerangan pangerang datang kerumah saya? Adakah maksud tertentu pangeran?" tanya Jenada. "Jenada, aku ingin membeli apel merah yang engkau jualkan itu." jawab sang pangeran. Dengan cepat Jenada membawa beberapa kantung apel merah yang diinginkan sang pangeran. Jenada lagi-lagi termenung dan tiba terdiam. "Jenada ada apa denganmu?" tanya sang pangeran. "Tidak pangeran, terimakasih telah mau membeli apel merahku ini" jawab Jenada dengan senyuman manisnya yang selalu diingat oleh sang pangeran.
   Keesokan harinya sang pangeran diam-diam datang untuk melihat Jenada dari kejauhan. Sang pangeran sangat terpukau oleh kebaikan hati Jenada dan wajah cantik nya. Sang pangeran tidak pernah memandang fisik atau pun harta yang dimiliki Jenada. Jenada pun masih teringat akan paras tampan yang dimiliki sang pangeran. Keduanya sedang dalam pengaruh aroma cinta. Jenada sangat mencintai sang pangeran, dia pun berharap sekali akan dipertemukan lagi oleh sang pangeran. Tetapi Jenada merasa sangat kurang percaya diri akan tubuh yang dimilikinya. Tubuhnya yang sangat gemuk membuatnya sangat merasa kekuarangan.
   Suatu hari Janeda mendapatkan surat undangan dari istana kerajaan. Disitu tertulis Janeda aku harap engkau datang ke acara dansa ku malam ini, akan ada kereta kuda yang aku utus untuk menjemputmu dan jangan lupa untuk mengenakan gaun yang aku bawakan ini untukmu (Pangeran). Jenada pun merasa sangat senang lalu dia menceritakan kepada kedua orang tuanya. Sang ayah yang masih terbaring pun merasa sangat bahagia melihat putrinya bahagia. Malam hari pun sangat cepat menyambut Jenada. Begitu cantik saat Jenada menggunakan gaun yang diberikan oleh sang pangeran. Sesampainya kereta kuda yang membawa Jenada ke istana, begitu terpukaunya sang pangeran melihat Jenada berjalan memasuki istana yang didalamnya penuh dengan perempuan cantik dan kaya. Jenada terlihat sangat malu, lalu sang pangeran mengajaknya berdansa dan sang pangeran mengenalkan Jenada kepada para tamu perempuan yang lainnya. Tetapi ada perkataan yang membuat Jenada harus meninggalkan istana tersebut dengan wajah sedih. "Hei Jenada, seharusnya engkau memperhatikan bentuk tubuhmu itu saat berjalan bersama sang pangeran. Tidak kah kau sadar bentuk tubuhmu itu seperti seorang pembantu istana." kata salah seorang tamu perempuan. Tanpa berpikir panjang Jenada pun pergi meninggalkan sang pangeran dan menangis sepanjang jalan. Jenada berjalan sangat cepat dan terus memasuki hutan yang terkenal akan gelapnya. Jenada terkaget-kaget kenapa dia bisa masuk kedalam hutan ini. Tiba-tiba saja sang pangeran muncul dan menyuruh Jenada berhenti. "Jenada aku tidak mempedulikan tentang fisik dan hartamu, yang aku inginkan hanyalah kamu dan cintamu yang putih seperti hatimu".
^ Selesai^ 

Selasa, 08 Januari 2013

Dunia Hitam dan Dunia Putih

Menangis...
Itu tandanya sedih
  Tertawa...
Itu tandanya bahagia

Dimanakah kau saat aku menangis?
Dimanakah kau saat aku tertawa?

Menghilang bagai ditelan bumi
Menghilang bagai ditelan samudra
Menghilang bagai ditelan cahaya matahari

Kepedulian mu
Ke acuhan mu
Semua berdampak pada realita kehidupan kita
Saat ini juga

Mengapa engkau tidak pernah mengerti
Bukankah engkau yang menjanjikan semuanya

Bersumpah untuk merubah garis hitam ini
Merubahnya menjadi putih

Hitam yang berarti gelap
Dan putih yang berarti terang     

Hitam dan putih seperti membelah dunia
Dunia kita 
Dunia aku
Dunia kamu      

 




Sabtu, 05 Januari 2013

Aku, Dunia Gambarku Itu Dunia Aku dan Masa Lalu dan Sekarang



 Entah sejak kapan aku mulai menyukai goresan pensil yang berserakan diatas kertas sehingga menghasilkan sesuatu yang menurutku lucu dan menyenangkan.
Saat itu ku mulai menggoreskan pensil yang sungguh berwarna indah pada selembar kertas yang putih dan polos. Itu sangat menyenangkan, menciptakan sesuatu diatas kertas. Kedengarannya biasa aja, tapi ini membuatku mempunyai dunia baru.
Ku beranikan diri untuk menumpahkan cairan berwarna-warni yang menambah keindahan warna yang aku inginkan. Ku ambil sebatang kuas besar dan entahlah apa yang sebenarnya akan ku buat.
Setiap hari ku berani menggoreskan semua yang ada dan mencampurkan semua yang ada. Awalnya sungguh tidak ada maksud dari sesuatu yang aku goreskan. Tapi justru ini membuat ku merasakan proses yang sebenarnya aku ingin lakukan untuk kepuasan ku dikertas itu. 

Lelaki yang Membunuhku dengan Pesonanya

Dikala sang bulan datang perlahan-lahan meresapi cahaya indah mentari
Disitu aku termenung
Disitu aku terdiam, menatap sekeliling yang begitu tenang dan terasa damai

Ada maksud dari tingkah laku yang ku lakukan ini
Ku menoleh ke arah kanan
Pandanganku tertuju pada rumah itu

Iya, benar disitu
Aku mencari-cari seseorang yang akan berkelana ke alam bebas

Penasaran yang terus menghantui ku
Ada apa gerangan?
Sosok pria yang membuat mataku, raga serta jiwaku terpaku padanya

Terpana ku menantinya
Terpana hingga tak mempunyai arti
Terpana hingga ku membeku
Terpana hingga ku mati dalam rasa penasaran ini